sebagai kata terakhir jumpa, dipersembahkan sajak-sajak pamit dari kelas 12 untuk adik kelas, guru, dan madrasah.
Selagi senja belum tiba, kukaitkan jari dengan pena
menggoreskan beberapa buah sajak sebagai kata
terakhir jumpa
kepada adikku,
dengarlah baik-baik nasihatku
pewaris kelas yang pernah kutempati,
mohon rawat sesinggahan ini seperti rumah sendiri,
buang sampah pada tempatnya, kerjakan PR tepat waktunya,
jangan sengaja terlambat agar tidak hadir di pelajaran pertama,
dewasalah dan belajar menjadi pelindung bagi adik dan bapak ibu
guru,
tetap rajin mengeja, sering-seringlah membanggakan mereka,
segera meminta maaf saat kau alpa pada orang tua kedua,
segala yang mengalir dari mereka,
adalah niat untuk membentukmu menjadi manusia berbeda,
hormati dan takdzimlah…
kepada mahaguru,
kau bukan sesiapa
Lelaki dan perempuan biasa, yang
ketika matahari pagi tak cukup lima puluh senti
Telah tegak di depan pintu kelas menanti jejak-jejak kecilku untuk mengganti peran
ayah dan ibu
Dari matamu, kukenali angka, abjad, akhlaq, dan bakat
Tahu tulis baca
Mengerti budi pekerti
Serta tau cara memahami harapan yang harus kujaga, agar
kelak ketika dewasa,
bisa menjadi apa yang kuminta
Maaf,
Atas segala perilaku yang belum mampu kujaga
Kenakalan-kenakalan kecil yang melelahkan, serta gurauan
yang sering lampau batasnya
Aku tau, sabarmu tak pernah pupus
Tetap sedia tersenyum dengan tulus
Jasa yang
kau senandungkan setiap pagi tak cukup kuganti dengan secangkir kopi
Atau bahkan, kata
terima kasih yang kuucap hingga ratusan kali
Tekadmu untuk mencerdaskan
kami putra-putri bangsa tak mampu kubayar dengan apa-apa
Maka kusungguhkan doa, agar
hayatmu di rahmati Tuhan,
selamanya
dan kepada madrasahku,
rumah teduh dan naungku
‘ntah mantra atau doa yang kau jadikan peluluh jiwa,
keduanya terdengar sama
memikat jari-jari kaki agar kutuju setiap pagi
terima kasih, telah memberi orang tua dan sahabat,
hingga kini aku bangga menyebut mereka sebagai keluarga
terima kasih atas pintu yang kulewati setiap pagi, tangga
yang kupijak,
kursi yang pernah kududuki,
meja sebagai sandaran ketika aku lelah menerima pelajaran,
besarlah dengan baik, jadilah rumah yang
dibutuhkan banyak insan,
suguhkan ribuan abjad bagi para pesinggahmu yang budiman,
kudo’akan, kelak esok atau lusa, madrasah kebanggaanku ini menjad ijaya.
setelah selesai puisi kubaca,
selesai pula kewajibanku meraih pandai di tempat ini –
rumah kedua,
selepas ini, banyak yang hilang, banyak yang putus,
banyak yang berkurang.
yang tetap sama, adalah ikatan kekeluargaan.
7 Mei 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar